Hardiyanto Takula

Halo kawan blogger saronde, gimana kabar kali ini? Semoga saya temui dalam keadaan sehat wal afiat, semoga daerah kita (Gorontalo) selalu aman dan tenteram, amiin. Seperti terlalu lama saya tidak login ke blog ini, itu karena saya kehilangan ID dan password untuk beberapa saat, dan juga karena email ya telah mengalami pembajakan, dan alhamdulillah telah berhasil dibuka kembali blokiraanya setelah lompat kesana kemari mencari referensi, semoga tidak terulang kembali ya :) Kini, kesempatan itu datang lagi, dan inilah tulisan ngaur saya diblog ini, mohon izin ngepost ya admin :)

Jujur, saya sedikit frustasi melihat keadaan daerah kita bahkan bangsa kita. Semeraut? Tidak juga. Bersatu? Mungkin iya. Satu hati? ya semoga saja. Ada satu teman blogger entah dari mana dia berasal, mungkin dia anak rimba, rimba blogger maksudnya, maaf bukan rimba hutan, memberi tahu saya via email, tentang perputaran zaman global yang semakin rumit, panjang ceritanya, mungkin naskah koran kalah saing dengan tulisan email itu.

Diakhir tulisannya, sedikit bertanya, mengapa diam saja untuk daerahmu. Pertanyaan itu sebenarnya sepele, namun penuh makna peringatan bahwa kita hidup harus bersosialisa (upz…bukan sosialisasi politik ya…) kita hidup tidak hanya diam ditempat, kita butuh tempat bernaung dan menaungi, kita butuh tempat yang kita tinggali, dan kita tidak membiarkan diri kita hidup tanpa ada aturan.

Mengapa diam saja untuk daerahmu? Bingung, kesal, gunda gulana, memecahkan teka-teki yang tersembunyi, tapi itulah maknanya, kita tidak bisa diam, terlebih lagi untuk daerah kita, Gorontalo. Tentu kita tidak membiarkan hanya pemimpin saja yang bergerak, bukan bupati dan gubernur saja yang bergerak, kita juga harus melakukan sesuatu yang terbaik untuk daerah kita.

Disini, didaerah kita, Gorontalo. Bukan mereka yang akan tampil dipanggung pilgub yang berbuat, kita pun harus berbuat, membangun bahu-membahu demi kemajuan bangsa dan daerah kita, bukankah kita adalah masyarakat yang beradab dan memiliki peradaban? Maka tak pantaslah kita untuk berdiam diri disini, duduk manis didalam rumah sementara anak istri kelaparan dan tempat kita dipenuhi rerumputan korupsi.

Tanggal 16 November 2011, mungkin hari itu pesta demokrasi bagi Gorontalo dan masyarakatnya, karena itu mari kita jaga keamanan dan ketertiban demi kelangsungan demokrasi kita. Kita tidak bisa diam, membiarkan daerah kita gagal membangun demokrasi yang bersih, kita harus bangun kepedulian, bahwa daerah kita adalah rumah kita, dan rumah kira harus senantiasa bersih.

Salam Mohutato, Moawota, Mohuyula, dan Momongu Lipu

Categories: Gorontalo

One Response so far.

  1. mnadox says:

    saya kira banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat kita, khususnya masyarakat gorontalo, temasuk saya sendiri, mengingat banyaknya sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang menganggur untuk kita olah dengan maksimal,tapi mungkin masih telalu sedikit juga masyarakat yang bergerak secara individu maupun kelompok untuk ikut serta dalam pembangunan di bidang apapu itu, karna mungkin adanya kebiasaan tak mau tau, non kritis, dan lain sebagainya. dan inilah yang “mungkin” harus kita rubah melalui perkumpulan-perkumpulan positive, di dunia nyata dan dunia maya seperti portal ini contohnya. :)

    *maaf Sedikit pandangan dari newbie :D

Leave a Reply