Danau Limboto, danau yang terus diceritakan dalam legenda dan mitos masa lalu, tidak lepas dari pertalian kearifan lokal pada masyarakat yang tumbuh dan berkembang disekitarnya. Danau Limboto, merupakan bagian dari sejarah peradaban masa lalu, dimana dalam cerita legenda masa lalu, bahwa terjadinya Danau Limboto, menandai munculnya peradaban umat manusia di kawasan ini, yang berkembang dan bersosial, beradat dan beradab, beragama, berinteraksi dengan yang satu dan yang lainnya, serta membangun tatanan yang teratur dan terstruktur, mengutamakan aspek agama dan adat.
Danau Limboto, sebagaimana dikumandankan dalam alunan syair Danau Limboto Carnival 2012, tentang penyelamatan Danau Limboto, adalah saksi bisu kehidupan masa lampau dan saksi sejarah perjalanan bangsa hingga masa kini. Orang Gorontalo mengetahui nama Mbui Bungale, Lahilote, Bailode Hulawa, Tolangohula, dan lain-lain, pun tidak lepas dari kesaksian Danau yang melegenda ini.
Danau ini juga, menjadi saksi sejarah, dimana anak bangsa di jazirah Hulondalo ini berperang, berselisih paham dan saling membunuh satu sama lain, dan juga menjadi saksi sejarah anak bangsa itu bersatu kembali, berdamai, bersaudara bahkan menyepakati berdirinya satu kerajaan besar, menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Gorontalo dan sekitar Teluk Tomini, sehingga kala itu Gorontalo menjadi salah satu kerajaan imperium di kawasan Teluk Tomini, yang pengaruhnya hingga ke sebagian Sulawesi Tengah, hingga terselenggara pula pemerintahaan yang baik dan bijaksana, adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan kitabullah, dan memantapkan peradabannya melalui U Duluwo Wawu Limo Lo Pohalaa, yang bermakna bersatunya 2 kerajaan besar, bersama lima kerajaan lainnya menjadi satu, yang di kenal dalam bahasa peradatan Gorontalo, yaitu Limutu Hulondalo atau Hulondalo Limutu.
Dalam perkembangannya, Danau Limboto pun menjadi sumber kehidupan masyarakat Gorontalo dari dulu hingga kini, dan dalam masa itu pula, kini danau telah tercemar oleh ribuan partikel perusak biota danau. Ulah manusia sekitarnya dan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keberlangsungan danau ini kedepan. Bulan April 2012 kemarin, telah digelar sebuah carnival yang bertajuk penuelamatan danau limboto, maka saya pun berpesan, jangan hanya sampai pada carnival saja, sebaiknya dibarengi dengan gerakan dan tindakan yang berani, antara pemerintah kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat dalam upaya menyelamatkannya.
Penyelamatan danau Limboto, bukanlah sekedar tugas pemerintah, baik kabupaten, pusat maupun provinsi, melainkan tugas kita semua, baik yang ada hilir danau Limboto maupun di bagian hulu. Kita telah diberi anugerah sebuah genangan air yang besar, tempat menampungnya sumber kehidupan manusia, tempat dimana Allah menganugerahkan rezekinya kepada kita sebagai masyarakat Gorontalo.
Mari, kita selamatkan Danau Limboto, kita bantu pemerintah membersihkan jejak kerusakan yang kita timbulkan sendiri, kita bangun kembali keaslian air tawar ini bersama ribuan jenis ikannya. Jika orang terdahulu telah menjaga lestarinya danau ini untuk kita masa kini, mari kita jaga danau ini untuk kehidupan penerus kita kelak. Lepaskan sejak ego kita, demi masa depan. Kebaikan danau ini, adalah kebaikan kita semua, baik yang kini maupun yang akan datang.
Salam Mohutato


good job bro.
maju terus gorontalo