Kiriman Tulisan Member Saronde Zulfianto Biahimo

Gorontalo, Provinsi baru dengan perkembangan yang pesat mungkin bisa dijadikan dasar bahwa daerah ini memiliki kemajuan dari sebelumnya. Banyaknya mall mulai dari level Mall, Hypermarket maupun pusat-pusat bisnis serta menjamurnya Distro-distro merupakan indikasi bahwa adanya Transisi tradisi di masyarakat. Ironi memang, di sisi lain kita mengalami perkembangan. Namun, di sisi lain kita mengalami penurunan terutama dalam aspek Budaya.

Misalkan dari segi pakaian. Bila dahulu kita masih melihat para gadis maupun perempuan tatkala keluar rumah biasa menggunakan bate untuk menutup auratnya sehingga yang terlihat hanyalah matanya seperti orang memakai “cadar”. Maka, sekarang justru sebaliknya. Bahkan trend sekarang adalah pakaian “maaf” Cadeko. Kultur budaya inilah yang lambat laun mulai bertransisi baik dari segi lahiriah maupun maknanya. Untuk tari dana-dana misalkan, yang lambat laun telah berubah menjadi tarian kontemporer dengan alasan pembaruan atau penyesuaian. Padahal, Tari Dana-dana tradisional sangat sarat akan makna Spritual. Karena dalam lirik syairnya terdapat nasihat-nasihat yang sarat akan makna. Kita tentunya pada tau bahwa Falsafah gorontalo adalah “adat bersendikat syarak, syarak bersendikat kitabullah”. Maka, wajar bila tari dana-dana Tradisional tidak menampilkan pasangan penari lawan jenis bila bukan Muhrimnya. Tapi sekarang justru sebaliknya. Nampaknya, fenomena ini bukanlah sesuatu hal yang harus kita “cuekin” tapi harus kita cari Solusinya. Sebenarnya banyak juga Usaha yang dilakukan untuk melestarikan budaya Gorontalo. Tapi sayang, tujuannya bukan untuk menjaga secara Tradisional baik dari segi makna maupun lahiriyahnya. Tapi, hanya untuk sebagai Income terhadap Finansial  semata.

Saya masih ingat ketika menonton sebuah Video di Youtube yang menampilkan Dance dari anak-sanak SD di Gorontalo. Tapi, sayang mereka memakai pakaian diatas lutut dengan tema “You can See”. Hmm. Mungkin, kita mesti mencontek daerah Bali yang masih menjaga Kultur dan budayanya yang kental walaupun daerah tersebut merupakan icon pariwisata Indonesia.

Categories: Tulisan Member

2 Responses so far.

  1. sebagai bangsa indonesia harus bisa melestarikan budaya sendiri ,, jangan sampai diambil tetangga….

  2. Mugniar says:

    Saya kirim tulisan sudah lebih dari seminggu yang lalu melalui web ini. Sudah ada pemberitahuan di e-mail saya bahwa tulisan saya sudah diterima. Apa masih bisa tayang di sini? Terimakasih

Leave a Reply